(Seharusnya) Hari Sumpah Pemuda
Indonesian Youth Pledge: Contemporary Youth Movement and its Challenges
Sumber: Pan Mohamad Faiz dan Haghia Sophia Lubis
Moreover, if we compared the second character of youth movement, the number of intellectuals that reside in foreign countries is not too much difference either. The number of intellectuals residing in foreign countries is still and even higher than pre-1928. For instance, there are around 20.000 Indonesian youth intellectuals in Australia, 26.000 in Malaysia, 5000 in Egypt and more than hundred thousands spread in United State, Europe, India, Japan and others.
Based upon this comparison, there are certain actions that could be taken by the present youth movement, particularly for the youth living and/or residing in foreign countries, to handle the national and international challenges.
[...]
Bearing in mind that the past experience had shown us how we are able to make changes through actions taken in foreign countries that would eventually shape and influence the national development that will bring Indonesia become a greater nation. Unfortunately, till today there has not a global unity among Indonesian youth across the world nor enough coordination and communication between domestic and international youth movement. Consequently, the youth movement and its role are become powerless to tackle current challenges.
Memaknai Sumpah Pemuda
Sumber: Yauhui.net
Dilihat dari sejarahnya Hari Sumpah Pemuda itu dimulai ketika sekelompok pemuda merasa perlunya sebuah perekat dan pemersatu agar bangsa kita lebih solid dalam menuju kemerdekaan pada waktu itu. Tetapi apa relevansinya dengan zaman sekarang ? Sumpah pemuda, bila kita ambil hikmahnya, itu mencerminkan sebuah tekad, komitmen dan cinta terhadap bangsa dan negara. Sehingga Bangsa ini menjadi lebih baik dan maju di segala sektor kehidupan.
lalu apa yang dapat kita lakukan untuk memaknai hari sumpah pemuda ini ?
Sangat simpel, cintai bangsa ini dengan segala hati Anda. Bila telah ada cinta, maka segala urusan pun menjadi mudah.
Lomba Menulis dalam rangka Hari Blogger Nasional & Sumpah Pemuda
Sumber: Blogor.org
Dalam rangka memperingati Hari Blogger Nasional dan Hari Sumpah Pemuda, Komunitas Blogger Bogor (BLOGOR) mengadakan lomba menulis sebagai berikut:
Tema:
1. Peran blogger dalam kemajuan pendidikan di Bogor
2. Peran blogger dalam meningkatkan kreatifitas positif pemuda
Sumpah Pemuda Ke-80 Mana Suara Pemuda Blogger Indonesia
Sumber: Manusia Biasa
Dunia milik anak muda. Begitulah yang sering kita dengar. Dulu, Soekarno bahkan pernah berucap “berikan padaku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia.”
[...]
Lalu apa kabar pemuda Indonesia hari ini? Apakah hanya duduk termenung dalam diam, Ketika (sepertinya) tak ada sesuatu yang harus didobrak. Tak ada gelora, apalagi “hati yang berkobar”. Hidup seperti berlangsung biasa-biasa saja, tanpa pergerakan, sebab dunia memang seakan-akan sedang damai dan sejahtera belaka. dan apakah Pemuda Blogger hari ini adalah generasi TV, play station, gadget pemutar musik, ponsel berkamera 3 megapiksel, SMS, MMS, bluetooth, nongkrong, dan clubbing.
Bentangkan Optimisme Bangsa
Sumber: Anies Baswedan (Kompas)
Kini, 80 tahun setelah deklarasi Sumpah Pemuda, ada keprihatinan atas melorotnya optimisme kolektif bangsa. Belakangan ini diskusi tentang Indonesia sering diwarnai perasaan suram. Dalam berbagai forum, di hotel berbintang hingga obrolan di warung kopi, diwarnai keluh kesah. Gelembung semangat yang dulu dikagumi di Asia bahkan dunia, kini seolah kempes. Bangsa ini sedang dilibas pesimisme kolektif. Bahasa bersama adalah bahasa pesimistis. Kondisi ini benar-benar tidak sehat.
[...]
Dalam kondisi demikian, bangsa Indonesia harus berubah, harus bisa kritis tetapi tetap optimistis. Bangsa ini perlu fokus pada inspirasi tentang kemajuan, bukan ilustrasi kegagalan dan kekacauan. Bangsa Indonesia perlu memiliki perasaan kolektif positif untuk maju dan berkembang. Di sinilah pentingnya pemuda dan pemimpin bangsa sadar pentingnya optimisme. Pesimisme dikubur, munculkan optimisme.
Anak-anak muda dan pemimpin di berbagai sektor dan segala strata harus menjadi motor tumbuhnya optimisme. Sudut pandang dalam setiap realita yang dihadapi harus diubah. Realitas bangsa dipandang dengan kacamata optimisme. Hadapi tantangan sebagai peluang untuk kemajuan, bukan masalah untuk keluh kesah dan mencari kambing hitam. Media pun perlu menggadakannya agar menjadi optimisme kolektif.
“Soempah Pemoeda”, Semangat Luntur
Sumber: Be Julianary (Kompas)
Saat ini tiga kali lipat lebih banyak publik yang menilai makin lunturnya semangat persatuan bangsa Indonesia dibandingkan dengan yang berpendapat sebaliknya. Penonjolan kepentingan daerah daripada kepentingan nasional oleh kaum muda juga semakin dominan dirasakan tiga dari empat responden.
Di mata separuh responden, kaum muda dinilai memiliki kecenderungan merusak daripada memupuk semangat persatuan meski di sisi lain diakui pula mereka kini lebih berani menyuarakan pendapat, sikap kritis terhadap pemerintah.
[...]
Perubahan dalam berbagai aspek kehidupan telah membuat wajah Indonesia sangat berbeda dengan zaman pergerakan saat sumpah pemuda dikumandangkan. Kebebasan politik, ekonomi, dan gaya hidup menjadi ciri yang lekat dengan kekinian.
Kaum muda masa kini bergelut dengan kesulitan riil (dan ilusif) di tengah keinginan untuk tetap menjaga ikatan-ikatan primordial dan tradisi asal. Mereka, misalnya, merasa lebih baik jika dalam rumah tangganya yang ada hanyalah “ke-ika-an” dibandingkan dengan kebhinnekaan.
Rise of youth of Indonesia
Sumber: willysuryawan (YouTube)
Kembalikan jiwa revolusioner Sumpah Pemuda !
Sumber: A. Umar Said
Bagi siapa saja yang mau bersikap serius dan objektif akan bisa melihat bahwa Sumpah Pemuda merupakan peristiwa besar dan maha penting bagi bangsa kita dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda dan merebut kemerdekaan nasional. Begitu besarnya arti atau peran yang dikandungnya, sehingga boleh dikatakan bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan dalam tahun 1945 tidak akan diperoleh oleh bangsa kita, seandainya tidak ada Sumpah Pemuda dalam tahun 1928. Sumpah Pemuda 1928 adalah cikal bakal proklamasi kemerdekaan 1945 yang melahirkan NKRI. Sumpah Pemuda adalah sumber konsep besar persatuan bangsa yang dikenal sebagai Bhinneka Tunggal Ika. Sumpah Pemuda adalah juga landasan inspirasi gagasan besar Bung Karno yang kemudian dirumuskan dalam Pancasila. Sumpah Pemuda 1928 adalah jiwa pemersatu bangsa yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, dan kedudukan sosial.
Nationalism Pun Intended
Sumber: jpmrblood
Next thing that I think we need to have in this country is National Reconsiliation. The past may haunt some people, but make it at least not to stall the improvement of Indonesia. History is there to be written as a lesson that we don’t fall into the same pit. But, it has no right to put chains unto our neck. It should stay as a lesson not burden.
Romantisme di 28 Oktober
Sumber: Babu Ngeblog
Pelbagai persoalan tersebut cukup memberi isyarat bahwa nation building kita belum selesai. Porak-porandanya bangsa dari disintergrasi, konflik sosial, sampai terorisme adalah “PR” yang harus serius ditangani. Substansi Sumpah Pemuda nyata-nyata telah diingkari generasi saat ini. Kita sadar, sejarah mencatat bahwa pemuda adalah agen garda depan dalam setiap perubahan. Sejak pra-kemerdekaan, dalam peristiwa yang monumental (Sumpah Pemuda, revolusi kemerdekaan 1945, dan gerakan reformasi yang berhasil menggulingkan rezim neo-fasisme Orde Baru), pemuda Indonesia menjadi pelopor dan penggerak perubahan. Gerakan-gerakan itu muncul karena kuatnya idealisme pemuda. Tak salah jika pemuda menjadi kebanggaan tersendiri di negeri ini.
Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan
Sumber: Sawali Tuhusetya
Saya juga hanya bermimpi negeri ini memiliki kaum muda yang sanggup menjadi aktor perubahan; sosok yang memiliki kecerdasan dalam berpikir, memiliki kedewasaan dan kearifan dalam bertindak, serta sanggup melepaskan ikatan-ikatan primordial sempit sehingga mampu memberikan pencerahan sosial di tengah-tengah publik. Kaum muda juga selalu menjadikan “sejarah sebagai guru kehidupan”; mampu mengejawantahkan makna “historia magistra vitae” dalam merumuskan langkah hari ini dan masa depan negerinya. Saya yakin, bahkan haqqul yakin, bahwa sosok kaum muda yang memiliki karakter semacam itu masih ada di negeri ini. Hanya saja mereka belum bisa tampil secara kloletif menjadi sebuah kekuatan prima yang sanggup melakukan perubahan.
Kaki Langit
Sumber: Goenawan Mohammad (Catatan Pinggir)
Maka tak aneh jika dalam semangat kebangsaan, tersirat sebuah paradoks: sesuatu yang universal ada di dalamnya. Sebab sebuah bangsa pada akhirnya hanya secara samar-samar, seperti hantu, bisa merumuskan dirinya sendiri. Yang penting akhirnya bukanlah definisi, melainkan hasrat. Renan menyebut bahwa bangsa lahir dari “hasrat buat bersatu”, tapi seperti halnya tiap hasrat, ia tak akan sepenuhnya terpenuhi dan hilang. Hidup tak pernah berhenti kecuali mati.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, Indonesia.
Hello. You are now reading an article written by Marisa Duma, published on 28Oct08 along with other notes on Activism, Articles On The Web, Bahasa Indonesia, Blogosphere, Events, Indonesia, Listings, Philosophy, Politics, Youth.
Still can't find the answer you're looking for?
Perhaps you'd find one from
















This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.